Saya ingin Membuat Kedua Orang Tua Saya Menangis

Menangis

Sudah cukup tenar rasanya cerita Malin Kundang di telinga kita. Ada banyak versi dari cerita rakyat Minangkabau ini. Salah satu versinya adalah Malin Kundang yang hidup miskin bersama ibunya, pergi merantau ke negeri orang. Setelah sukses dan kaya raya, beristri kaya dan cantik, dia ada urusan dagang ke kampung halamannya. Saat itu dia bertemu dengan ibunya, namun tidak mau mengakui ibunya karena malu kepada istri dan para bawahannya. Ibu Malin Kundang menangis karena merasa tersakiti dan berdoa supaya Malin Kundang menjadi batu. Do’a tersebut dikabulkan dan Malin Kundang berubah menjadi batu.

Saya tidak tahu kebenaran cerita tersebut, tapi bukan cerita itu yang mau saya bagi di sini. Saya punya beberapa keinginan untuk membuat orang tua saya menangis. Bukan menangis sedih seperti yang dilakukan oleh Malin Kundang, namun menangis bahagia.

Saya keluar dari pekerjaan saya sebagai karyawan swasta beberapa tahun lalu bukan semata-mata karena ingin buka usaha, lalu ingin cepat kaya. Ya, itu benar, saya tidak memungkiri. Siapa sih yang tidak mau cepat kaya? :D. Terus terang walaupun Nabi pernah bersabda bahwa kebanyakan penghuni surga adalah dari orang miskin, saya belum berani berdoa minta miskin.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ

Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku berdiri di pintu surga, maka kulihat orang-orang yang masuk ke dalamnya kebanyakan dari orang-orang miskin. (HR Muslim K. Dzikir)

Salah satu alasannya, saya merasa belum bisa membalas kebaikan kedua orang tua. Susah rasanya kalau berharap kaya hanya dari penghasilan dari menjadi karyawan biasa. Saya masih punya mimpi, ingin membangun panti jompo, supaya kedua orang tua saya bisa ada di situ. Bukan untuk mengucilkan mereka, namun justru supaya di akhir perjalanan hidup mereka, agama mereka bisa terjaga. Saya bisa mendampingi mereka dan ada pengajian rutin yang bisa diikuti oleh mereka, supaya mereka bisa meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah (akhir yang baik).

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya amal perbuatan itu dihitung di akhirnya. (HR Ahmad)

Saya ingin membuat kedua orang tua saya menangis di akhir hidup mereka.

Biasanya alasan orang keluar dari pekerjannya dan memilih untuk buka usaha sendiri karena:

  1. Ingin waktu yang lebih bebas.
  2. Ingin lebih cepat kaya.

Sayangnya, banyak juga yang setelah keluar dari pekerjaannya, malah kedua hal tersebut tidak didapat. Kaya ngga, punya banyak waktu longgar juga ngga.

Sewaktu jadi karyawan, justru penghasilan teratur. Dengan kerja sendiri, penghasilan tidak tetap dan malah sering kurang.

Sewaktu jadi karyawan, cukup kerja dari jam 8 s/d 17, Sabtu Minggu libur. Dengan kerja sendiri, bisa kerja dari Subuh sampai Isya, kadang Sabtu Minggu juga terus bekerja. Alasannya sih, bersusah-susah dulu, bersenang-senang kemudian. Tapi kalau seperti itu terus, gimana?

Jadi tidak selalu menjadi pengusaha itu lebih baik. Kalau kata Robert Tiyosaki, peulis buku Rich Ad Poor Dad, orang yang usaha sendiri tapi malah makin sibuk, apalagi penghasilannya malah jadi lebih sedikit daripada saat menjadi karyawan, itu masih tetap di kuadran kiri, belum masuk ke kuadran kanan. Mereka hanya pindah jalur dari E (Employee) menjadi S (Self-Employee), bukan pindah ke B (business) atau I (Investor).

Tujuan saya keluar dari pekerjaan saya sebagai karyawan di antaranya juga karena kedua hal tersebut. Tapi ada hal yang lain lagi yang saya cari. Sewaktu bekerja sebagai karyawan, saya tidak bisa memfokuskan ibadah saya. Padahal tujuan Alloh menciptakan jin dan manusia adalah untuk menyembah-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. (QS Ad-dzariyat 56)

Alhamdulillah, dengan niat untuk lebih bisa banyak beribadah, waktu lebih longgar, penghasilan juga tidak jauh berbeda dengan sewaktu kerja tetap. Yang dulu hampir belum pernah mengkaji Kutubu Sittah, sekarang sudah cukup banyak isi. Yang dulu saya hampir belum pernah menghapalkan Qur’an lagi (kalau tidak salah terakhir itu waktu SMU, itu pun terpaksa supaya dapat nilai di pelajaran agama), sekarang sudah lumayan ada yang dihapal walau belum begitu banyak.

Yah…saya memang belum sempurna, masih sering berbuat lahan dan hal-hal jelek lainnya. Tapi setidaknya ada usaha ke arah yang lebih baik.

Keinginan menghafalkan Qur’an di atas terutama karena mengkaji hadits berikut:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَهُ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ اسْتَوْجَبُوا النَّارَ

“Barangsiapa membaca Al Qur`an dan menghafalkannya, maka Alloh akan memasukkannya ke dalam surga serta akan memberi syafa’at (ampunan) kepada sepuluh dari keluarganya yang seharusnya masuk neraka.” (HR Ibnu Majah)

Setidaknya, saya ingin bisa memberikan syafa’at kepada dua orang, yaitu kedua orang tua saya. Berbagai hal di dunia tidak bisa membalas kebaikan orang tua.

لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

“Seorang anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya hingga ia mendapati orang tuanya sebagai budak, lalu ia membeli dan membebaskannya.” (HR Abu Daud K. Adab)

Itu pun tidak bisa membalas jasanya sejak kecil. Pembebasan itu hanya membalas sedikit jasa orang tua kepada kita. Karena itu, saya mencari cara untuk bisa membalas keduanya di akhirat nanti.

Saya ingin membuat kedua orang tua saya menangis saat di akhirat kelak.

One thought on “Saya ingin Membuat Kedua Orang Tua Saya Menangis

  1. Buat Duit Online

    Dah seminggu saya cuba cari bahan untuk assigment … last2 dapat kat blog nie…

    terima kasih di atas artikel yang amat bermanfaat kepada saya nie…
    :)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>